Menjaga Nyala Republik: Konsolidasi dan Krisis Politik 1946
Apa jadinya jika kemerdekaan belum genap setahun, sudah dikoyak krisis internal, kudeta, dan api perlawanan yang belum padam?
Di Balik Layar Revolusi: Bukan Sekadar Persatuan
Indonesia baru merdeka, namun riak perpecahan, intrik politik, dan pergolakan sosial justru makin menjadi-jadi dalam tahun 1946. Siapa yang menyangka, tantangan terberat ternyata lahir dari dalam tubuh republik sendiri?
Miskonsepsi yang Masih Menghantui
- Setelah proklamasi, elite nasional bersatu padu tanpa konflik.
- Militer dan pemerintah sipil selalu satu suara.
- Krisis besar baru terjadi setelah agresi militer Belanda.
- Bandung Lautan Api hanya soal pembakaran kota, tanpa arti strategis.
Jika pemikiran semacam ini masih Anda percayai, Anda belum benar-benar menyelami kompleksitas tahun pertama republik.
Pertanyaan yang Akan Membuka Wawasan Anda
Pernahkah Anda bertanya...
- Mengapa tentara rakyat harus dirombak total dalam waktu singkat (TKR menjadi TRI)?
- Apa yang mendorong pemerintah sampai harus pindah ibu kota secara diam-diam ke Yogyakarta?
- Benarkah sejarah Indonesia pernah nyaris berubah haluan karena upaya kudeta pertama dari kalangan sendiri?
- Siapa tokoh-tokoh kunci dan pengkhianat dalam Peristiwa 3 Juli 1946?
- Bagaimana tragedi “Bandung Lautan Api” berawal dari keputusan politik, bukan sekadar keberanian spontan?
- Mengapa isu pembentukan negara federal dan Konferensi Malino sangat menentukan arah republik?
Jawaban kritis dan perspektif segar atas pertanyaan-pertanyaan itu bisa Anda temukan di sini.
Dapatkan eBook nya hari ini dengan penawaran terbaik
Rp 15.000
(Harga akan naik setelah kuota setiap batch terpenuhi)
Cara Pembelian:
Lengkapi Data
Pilih Metode Pembayaran
eBook dikirim via email sesaat setelah pembayaran