Di Antara Dua Badai: Renville, Krisis, dan Pemberontakan di Republik Muda
Mampukah republik bertahan saat wilayah makin mengecil, blokade mencekik, dan gejolak datang justru dari dalam?
Saat Diplomasi dan Konflik Bersenjata Saling Menguji Arah Bangsa
Antara Agresi Militer Belanda I dan II, Indonesia muda dihadapkan pada ujian paling rumit: tekanan diplomasi internasional di meja perundingan USS Renville, penyempitan wilayah dan kekuatan, hingga munculnya konflik internal yang berakhir darah di Madiun.
Miskonsepsi yang Kerap Beredar
- Setelah agresi, Republik aman—yang penting tinggal menunggu pengakuan.
- Perjanjian Renville adalah bentuk kemenangan diplomasi Indonesia.
- Konflik Madiun sekadar masalah ideologi kiri dan selesai hanya dalam hitungan hari.
- Blokade dan penyempitan wilayah tidak berdampak besar pada kelangsungan republik.
Faktanya, justru di periode ini banyak fondasi dan risiko besar yang menentukan kelanjutan republik.
Pertanyaan yang Patut Anda Renungkan
- Bagaimana proses alot dan tekanan berat di balik Perundingan Renville, dan siapa aktor sesungguhnya di meja negosiasi?
- Mengapa Perjanjian Renville justru membatasi wilayah republik dan melahirkan tantangan baru bagi TNI dan pemerintah Indonesia?
- Siapa saja yang terlibat dalam Peristiwa Madiun 1948—dan mengapa pemberontakan ini membekas dalam sejarah nasional?
- Apa korelasi antara krisis politik, blokade ekonomi, pergeseran garis Van Mook, dengan lahirnya pemberontakan internal terbesar di awal republik?
- Bagaimana negara muda ini sekali lagi membuktikan bahwa “kemerdekaan itu terus-menerus dipertahankan, bukan sebatas diumumkan”?
Semua jawaban, analisis, dan kisah nyata tersaji lengkap untuk Anda dalam ebook ini.
Dapatkan eBook nya hari ini dengan penawaran terbaik
Rp 10.000
(Harga akan naik setelah kuota setiap batch terpenuhi)
Cara Pembelian:
Lengkapi Data
Pilih Metode Pembayaran
eBook dikirim via email sesaat setelah pembayaran