Agresi Militer Belanda II & Gerilya Nasional (1948–1949)
Ketika Yogyakarta jatuh, para pemimpin ditangkap, dan dunia mengira republik telah berakhir—tiba-tiba, perlawanan justru meletus dari segala penjuru.
Belanda Menyerbu, Bangsa Bangkit Total
Desember 1948. Operasi Kraai diluncurkan oleh Belanda, Yogyakarta direbut, Soekarno-Hatta diasingkan, pemerintahan lumpuh. Namun, Indonesia belum tamat. Justru di sinilah babak pertahanan gerilya paling heroik dimulai, dari Jawa, Sumatra, hingga Bukittinggi.
Miskonsepsi yang Harus Dibongkar
- Setelah Yogyakarta jatuh dan pemimpin ditawan, republik otomatis hancur.
- Semua kekuatan perlawanan TNI langsung lumpuh begitu Operasi Gagak berjalan.”
- Serangan Umum 1 Maret cuma aksi simbolis kecil yang tak mengubah apapun.
- PDRI di Bukittinggi hanyalah formalitas, tanpa peran penting.
Tanpa mendalami kisah di balik serangan, gerilya, dan lahirnya PDRI, Anda melewatkan babak pembuktian terbesar republik.
Pertanyaan yang Membuat Anda Tak Sabar Membaca
- Bagaimana strategi Operasi Kraai dirancang dan mengapa Belanda gagal membungkam TNI dan rakyat?
- Mengapa Jenderal Soedirman, meskipun sakit parah, memilih memimpin perang gerilya hingga keluar-masuk hutan belantara?
- Apa yang sesungguhnya terjadi di Serangan Umum 1 Maret 1949—dan bagaimana dampaknya ke dunia internasional dan perubahan sikap PBB?
- Bagaimana kisah “pemerintahan darurat” (PDRI) Syafruddin Prawiranegara menyelamatkan eksistensi republik dari ancaman hilang di peta dunia?
- Siapa saja tokoh-tokoh di lapangan yang mengubah sejarah melalui keputusan nekat dan taktis di tengah kepungan?
Seluruh jawaban dan narasi otentik tersaji untuk Anda di ebook ini.
Dapatkan eBook nya hari ini dengan penawaran terbaik
Rp 10.000
(Harga akan naik setelah kuota setiap batch terpenuhi)
Cara Pembelian:
Lengkapi Data
Pilih Metode Pembayaran
eBook dikirim via email sesaat setelah pembayaran